Catatan Tentang NAS DAILY

Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. barangkali itu pepatah yang tepat kita sematkan pada kasus yang menimpa seorang influencer ternama dunia baru-baru ini, Yuser Nassin yang lebih kita kenal dengan nama perusahaan medianya, Nas Daily. Seperti yang  diberitakan di beberapa media massa, Nas Daily mengalami kejadian dimana para followers media sosialnya menurun cukup drastis, bahkan mungkin ini merupakan kejadian pertama kalinya dalam sejarah sejak awal berdirinya media sosial Facebook. Para pengikut pada media sosialnya menurun sebanyak lebih dari 500.000 hanya dalam waktu kurang dari satu minggu, apa penyebabnya sehingga terjadi insiden itu?

Semua insiden ini bermula ketika Yuser Nassin atau Nas Daily ingin mengembangkan bisnis informasinya ke bisnis edukasi. Melalui Nas Daily Academy, mereka menawarkan beberapa kelas program pendidikan berbayar kepada publik. Berbeda dari kelas online lain yang sudah ada, Nas Daily Academy memfokuskan bisnisnya untuk menyasar pembelajaran digital dan pelestarian budaya. Sebuah ide yang menarik, karena ide mereka menjawab tantangan yang selama ini baru menjadi ide di kepala para pelaku bisnis digital, yaitu apakah dunia digital mampu menjadi jembatan pelestarian budaya atau malah justru menjadi musuh bagi budaya itu sendiri.

Sebagaimana layaknya sebuah proses, trial error merupakan hal yang mutlak terjadi. Malangnya, Nas Daily Academy merupakan yang pertama memulai dan yang pertama pula “merasakan” error-nya. Tim Nas Daily mendapatkan masalah yang cukup fundamental tatkala ingin membuat sebuah kelas belajar tato asli yang berasal dari negara lumbung padi, Filipina. Dalam kelas yang dibuat oleh tim Nas Daily ini mengajarkan kepada publik, tentang cara membuat tato tradisional asli dari Filipina yang ilmunya sudah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari 1.000 tahun. Pada iklan yang ditayangkan oleh Nas Daily, mereka mengklaim bahwa pada pelajaran membuat tato akan diberikan oleh Whang Od, seorang seniman tato tradisional yang telah menjadi legenda di Filipina.

Bagi Nas dan netizen, kelas online ini sangat menarik, tapi belum tentu bagi Whang Od. Beliau merasa bahwa tim dari Nas Academy tidak menginformasikan dan tidak ada kontrak yang jelas terhadap dirinya, Whang Od merasa bahwa Nas dan timnya telah mengeksploitasi kebudayaan lokal di negaranya. Nah lho?

Belum selesai masalahnya dengan Whang Od, Nas Daily kembali dirundung masalah. Kali ini mereka bermasalah dengan seorang pengusaha agrikultur asal Filipina, Louise Mabulo. Mabulo sendiri bukan orang sembarangan, karena dia masuk dalam kategori 30 pengusaha sukses yang berusia dibawah 30 tahun, versi majalah Forbes.

Bagaimana bisa bermasalah dengannya? Kejadian bermula ketika Nas beserta timnya ingin membuat liputan tentang kehidupan Mabulo bersama para petani kakao di daerahnya. Mabulo dianggap sukses menggerakkan ekonomi petani lokal. Namun, kedatangan tim Nas Daily tidak bertepatan dengan musim panen kakao, sehingga alih-alih mendapatkan konten, Nas Daily malah melakukan tindakan tidak mengenakkan terhadap Mabulo saat dilokasi. Beberapa diksi hinaan tentang kemiskinan dikeluarkan oleh Nas Daily, sehingga menyinggung pribadi Mabulo. Mabulo pun menganggap bahwa Nas hanya mementingkan konten saja, sementara mereka tidak mengikuti proses pertanian yang dituntut Mabulo. Karena Mabulo merasa bahwa untuk urusan pertanian, terutama kakao, dia dan para petani disana sudah sangat hafal prosesnya.

Berkaca dari 2 kasus diatas, sebenarnya tidak ada pihak yang bisa disalahkan. Baik dari tim Nas Daily, keluarga Whang Od, dan Louse Mabulo. Karena masing-masing memiliki misi, komitmen, dan integritas yang berbeda. Nas, selayaknya konten kreator yang lain, dia memandang sesuatu dengan cepat, riset cepat namun jangkauan luas. Dia tidak menginginkan proses yang rumit, berbeda dengan Whang Od dan Mabulo yang melihat suatu hal bukan hanya dari bisnis semata. Tapi dari komitmen bagaimana menjaga nilai luhur budaya, integritas, tradisi, dan tentunya proses yang panjang.

Dari sini kita bisa belajar, bahwa ada jarak antara bisnis digital dengan dunia tradisional dalam memandang sebuah nilai. Di sisi lain, ada usaha untuk menjadikan nilai tradisi sebagai komoditas digital, sementara nilai-nilai tradisi memang harus dihormati lebih dari sekedar komoditas belaka.

Sebagai influencer, sudah sebaiknya kita menyadari, jangan sampai apa yang kita lakukan tampak seperti penjajahan model baru terhadap nilai tradisi. Yang hanya dipedulikan berkisar pada konten dan data, sehingga mengabaikan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Sebagai penggiat tradisi, kita juga harus realistis, dunia tidak berputar mengikuti kita, sehingga jangan sampai kita berharap dunia mengikuti kita tapi kita yang harus mengikuti dunia. Manfaatkan jejaring media sosial sebagai ikhtiar kita melestarikan tradisi. Dan harus diingat, ada ruang yang harus dijaga, ada juga ruang yang harus disampaikan kepada dunia, sebagai sumber ilmu. (bff)