Bisnis Kopi Dimasa Pandemi: Masihkah Jadi Filosofi?

Kopi begitu digandrungi kalangan anak muda Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Pamornya terdorong naik saat kemunculan film berjudul Filosofi Kopi yang disutradarai Angga Sasongko pada 2015.

Sejak saat itu, bisnis kopi pun menjadi bisnis yang menjamur hampir diseluruh kota di Indonesia. Kedai-kedai kopi bermunculan bak jamur di musim hujan, kultur penikmat kopi yang teraktivasi oleh gempuran musik indie serta potongan puisi dianggap begitu seksi. Padahal sebenarnya tak pernah benar-benar seksi secara ekonomi, tapi begitulah keadaannya.

Hingga akhirnya pandemi datang, menyelesaikan pesta lebih awal, membuyarkan mimpi-mimpi indah para pebisnis kopi untuk dapat menikmati cuan-nya lebih panjang.

Lembaga riset McKinsey mengatakan bahwa tren bisnis kopi dari hulu ke hilir menurun hingga 90% sejak pandemi, di sisi hulu diperkirakan ada 85% supply kopi dunia stuck akibat supply chain yang mandeg. Sementara hasil laporan riset Kementerian Pertanian RI justru lebih ekstrim, dijelaskan bahwa konsumsi kopi nasional hanya sekitar 370 ribu ton ditahun 2021. Tak sebanding dengan pasokan kopi yang jumlahnya hampir 790 ribu Ton, ada surplus 425 ribu ton yang belum tahu akan dilempar kemana.

Di hilir tak kalah ganas, gerai-gerai kopi yang awalnya memegang 40% market share kopi nasional, sekarang anjlok ke angka 16%. Dan trennya akan terus menurun dari tahun ke tahun jika pandemi masih bertahan tanpa ada penurunan kasus yang berarti atau pencapaian herd immunity dalam waktu dekat.

Menurut saya, ada 3 indikator yang bertanggungjawab atas penurunan performa bisnis kopi ini dimasa pandemi. Diantaranya indikator tersebut adalah:

Behaviour (prilaku)

Mayoritas konsumen kopi di Indonesia membeli kopi bukan karena mereka benar-benar menyukai minuman kopi. Selama ini kita lihat bahwa gerai kopi yang eksis ditopang oleh tren anak muda yang gemar nongkrong, sementara saat wabah pandemi ini muncul, semuanya serba dibatasi. Meski sebagian besar para pelaku bisnis tersebut dibantu dari penjualan online, gerai kopi tetap kehilangan senjata marketing yang paling utama, Nongkrong!

Investor Musiman

Suka atau tidak, diakui bahwa pemain gerai kopi beberapa tahun ini di dominasi oleh investor musiman. Mereka yang merasa memiliki modal tanpa melakukan riset mendalam tentang bisnis ini, menyebabkan fundamental bisnisnya rapuh. Mereka tidak punya diferensiasi produk, tidak punya market untuk produk unggulan, dan parahnya mereka dari awal merintis bisnis tidak punya strategi. Sehingga banyak diantara para pebisnis gerai kopi akhirnya gulung tikar.

Ego dan Idealisme

Jika kopi diibaratkan sebagai sebuah karya seni, maka barista adalah kreatornya. Namun sayangnya, kebanyakan barista memiliki ego dan idealisme yang tinggi sehingga tidak banyak diantara mereka yang mempertimbangkan efisiensi dan kompetisi harga. Dalam bayangannya, banyak orang membeli kopi karena memang benar-benar menyukai dan menikmati kopi. Padahal, fakta sebenarnya mayoritas konsumen kopi datang hanya untuk mendapatkan experience “nongkrong” di gerai kopi.

Ketiga indikator diatas telah cukup menunjukkan bagaimana rapuhnya fundamental bisnis kopi. Namun jika gerai-gerai kopi mulai memikirkan strategi apa yang mungkin akan dilakukan untuk menyelamatkan bisnis. Bisa jadi mereka akan selamat. Cukup menemukan solusi dari 3 indikator diatas.

Karena Kopi sejatinya bukan tentang Filosofi.